Cerpen

Cerpen ini pernah dimuat di Kompas Minggu

My Photo
Name:
Location: Depok II Tengah, Jawa Barat, Indonesia

A lonely eagle.... A true and insightful wanderer... A hidden lover... An alien from a distant star. Once I considered myself as a visitor (postgraduate student on "astro-sociology") from Alpha Centauri, a star, about 6 light-years from Earth. I have to finished my study here on Earth before going back to my hometown, the star where I belong: Alpha Centauri.

Thursday, August 12, 2004

TERORIS YANG SEBENARNYA

Oleh Satrio Arismunandar

Ruang konferensi pers, di gedung grup perusahaan Reformasi Kita, siang itu penuh dengan jurnalis dari dalam dan luar negeri. Sejumlah jurnalis televisi tampak sibuk dengan kamera mereka yang besar. Mereka terlihat sangat antusias. Bisa dimaklumi, karena Hendra Priyatna, Direktur Utama PT. Reformasi Kita, yang membawahi sejumlah pasar swalayan dan pusat perbelanjaan besar, akan memberi keterangan pers tentang aksi teror terhadap perusahaannya.
Empat hari yang lalu, sebuah bom meledak di salah satu pusat perbelanjaan besar milik Hendra, sehingga menewaskan dua karyawan dan tiga pengunjung, serta melukai dua belas orang lainnya. Ledakan itu, menurut penyelidikan polisi, diduga kuat adalah bom bunuh diri. Dari keterangan para saksi mata, tersangka pelakunya adalah Ahmad Mahdi, mantan karyawan PT. Reformasi Kita. Diduga, Mahdi mendendam karena beberapa bulan yang lalu, perusahaan tidak memperpanjang masa kontrak kerjanya. Alasan perusahaan waktu itu, Mahdi dianggap tidak berprestasi.
“Saudara-saudara sekalian! Mohon tenang, karena Bapak Hendra Priyatna telah hadir dan acara akan kita mulai,” seru seorang staf Humas perusahaan, yang menjadi pembawa acara. Para jurnalis pun segera duduk di jajaran kursi yang telah disediakan.
Hendra memasuki ruang dan langsung duduk di podium depan, di samping pembawa acara. Wajahnya tampak letih dan muram, agak kontras dengan perawakan tubuhnya yang besar dan kukuh, meski usianya sudah hampir 60 tahun. Ia memandang ke seputar ruangan sambil tersenyum tipis kepada para jurnalis.
Hendra diam sejenak, menunggu redanya kilatan-kilatan cahaya lampu blitz dari jepretan kamera para jurnalis, sebelum menyuruh stafnya membuka acara. Sesudah pengantar singkat dari stafnya, Hendra menyampaikan terimakasih atas kehadiran para wakil media massa.
“Pertama, atas nama pribadi dan selaku pimpinan PT. Reformasi Kita, saya menyampaikan rasa bela sungkawa yang sebesar-besarnya, atas jatuhnya korban jiwa dan korban yang luka-luka, dalam serangan bom yang lalu. Kepada keluarga para korban, saya juga berdoa, semoga mereka diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi musibah ini,” ujarnya, dengan suara tersendat.
“Saya juga telah menginstruksikan kepada staf saya, untuk mengganti seluruh biaya pengobatan para korban yang luka-luka dan dirawat di rumah sakit. Kepada keluarga korban yang tewas, kami juga akan memberi santunan ala kadarnya. Kami tahu, santunan ini tidak bisa menggantikan anggota keluarga mereka yang meninggal, tetapi itulah yang bisa kami lakukan,” lanjutnya.
Hendra lalu menuturkan kerusakan bangunan akibat ledakan bom dan nilai kerugiannya. Juga, tentang rencananya untuk menutup sementara pusat perbelanjaan yang dibom tersebut, sampai semua kerusakan diperbaiki dan ketenangan kerja pulih kembali. “Mungkin ada pertanyaan dari rekan-rekan wartawan? Mohon menyebutkan nama dan dari media mana.”
Seorang gadis bertubuh mungil dan berjaket Benetton merah, berdiri. “Saya Demi Melinda dari Trans TV. Tersangka pengebom, Ahmad Mahdi, diduga mendendam karena merasa diperlakukan tak adil, dan kontraknya tak diperpanjang. Bagaimana sebenarnya perilaku Mahdi, semasa masih bekerja di perusahaan Anda?” tanya gadis itu.
“Karyawan di perusahaan kami berjumlah ratusan. Tentu saya tak bisa mengenal mereka satu-persatu secara pribadi. Namun, menurut laporan staf kami, kinerja Mahdi memang lamban, sehingga kontraknya tak diperpanjang. Kami memperlakukan Mahdi dengan adil, dan tak mengurangi haknya sedikit pun. Tapi dia memang tidak berprestasi. Apa boleh buat. Kami tak bisa mempertahankannya.”
“Ade Pepe dari Warta Kota,” seorang jurnalis kurus mengangkat tangan. “Di rumah kontrakan Mahdi, polisi menemukan buku-buku berisi ajaran radikal dan buku berideologi kiri. Bahkan ditemukan sejumlah print-out dari Internet, tentang cara-cara merakit bom. Apakah selama bekerja di perusahaan Bapak, Mahdi telah menganut atau menyebarkan pandangan-pandangan radikal?”
“Hal itu pun, kami tak tahu. Sejauh laporan yang saya terima, Mahdi dikenal pendiam dan tidak banyak bicara. Orangnya tekun beribadah. Namun, sebagai bujangan, ia tidak banyak bergaul dengan rekan-rekan kerjanya. Mungkin saja, ia telah menganut pandangan-pandangan radikal, namun persisnya kami tak tahu.”
“Maaf, Pak Hendra,” kali ini seorang gadis lain menyela. Berkacamata minus dan mengenakan jaket denim lusuh, ia tampak galak. “Saya Yunizar dari Majalah Gatra. Beberapa minggu sebelum terjadi pengeboman, Bapak tercatat beberapa kali membuat pernyataan di media massa, yang memuji dan mendukung pemerintah Amerika dalam perang melawan teror. Grup perusahaan Bapak kabarnya juga menjalin kerjasama erat dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Apakah tidak mungkin, pengeboman ini berlatarbelakang sikap Bapak, yang oleh sebagian kalangan dianggap sangat pro-Amerika tersebut?”
Hendra manggut-manggut. Tampaknya ia tidak terkejut dengan pertanyaan itu. “Terus terang, saya memang mendukung penuh kebijakan perang melawan teror. Tetapi bukan karena saya pro-Amerika. Lebih tepat jika disebut pro-kemanusiaan. Saya pikir, seluruh manusia yang masih waras akan mendukung perang melawan teror. Kebetulan saja, Amerika mempelopori kebijakan tersebut. Tentang bisnis dengan perusahaan Amerika, saya pikir tidak ada yang salah dengan itu. Bukankah pemerintah kita juga menerima bantuan utang dari Amerika?”
***
Empat hari sebelum acara konferensi pers itu, dua pria bercakap-cakap pelan, di dalam sebuah mobil Kijang berwarna lusuh, yang diparkir di tempat yang tidak mencolok. Pria yang satu berumur 25 tahunan, dengan warna kulit pucat. Berwajah klimis dengan jenggot tipis, pria itu tampak gelisah. Pria yang satu lagi berumur 40 tahunan, berkulit kehitaman dan berkumis agak kasar. Pria ini dengan tenang mengisap rokoknya dalam-dalam. Kontras dengan rekannya, ia kelihatan amat tenang.
“Ayolah, Mahdi!” kata pria yang lebih tua. “Semua yang akan kita lakukan ini sudah kita bicarakan panjang-lebar, jauh-jauh hari sebelumnya. Kenapa justru sekarang kamu jadi ragu-ragu?”
Mahdi menggeleng-gelengkan kepala. “Saya tidak ragu, Bang Rizal. Cuma…”
“Cuma apa? Kita tahu, grup perusahaan Reformasi Kita itu telah membuat kerusakan di mana-mana. Pabriknya mencemarkan lingkungan di sana-sini. Keuntungannya besar, tetapi karyawannya digaji kecil. Kamu sendiri diberhentikan begitu saja dari perusahaan, bukan? Pemiliknya, Hendra, juga sangat pro-Amerika. Lihat saja ucapan-ucapannya! Dia tak mau tahu atas penderitaan rakyat di Palestina, Irak, dan Afganistan karena tindakan Amerika. Hendra dan perusahaannya adalah kepanjangan tangan Amerika dan Zionis di negeri kita. Dia sangat berbahaya!” Rizal memberi penekanan pada tiap kata-katanya.
“Saya tahu, semua yang dikatakan Bang Rizal itu benar. Saya hanya belum yakin, paket berisi mercon besar ini bisa efektif, untuk menakut-nakuti Hendra agar mengubah kebijakan di grup perusahaannya.” Mahdi menatap Rizal, seperti minta kepastian.
“Aku yakin itu efektif. Sesuai rencana, kamu sekarang tinggal masuk ke pusat perbelanjaan itu dengan paket yang sudah kusiapkan. Kutunggu kamu di sini. Setelah kamu kembali, kita bersama-sama pergi dan menelepon ke pusat perbelanjaan itu. Kita katakan, ada bom di sana. Jika grup perusahaan Hendra tidak mengubah kebijakannya, kita mengancam akan serius mengebom cabang-cabang perusahaannya yang lain. Mudah, kan? Cara ini aman buat kita, juga tak akan ada orang yang terluka. Bagaimana?”
Mahdi tercenung agak lama. Akhirnya, pelan-pelan kepercayaan dirinya bangkit. “Baiklah, Bang. Saya siap sekarang,” ujarnya.
Rizal tersenyum, menenangkan. “Nah, itulah yang kuharapkan. Jangan bimbang, Mahdi. Semua yang kita lakukan ini adalah untuk kepentingan dan kebaikan semua orang. Saat ini, cuma itulah sumbangan yang bisa kita berikan.”
Rizal memberikan paket, yang sudah dibungkus rapi seperti kado, kepada Mahdi. Mahdi menerimanya, dan kemudian melangkah ke pusat perbelanjaan. “Tunggu saya, Bang Rizal!” ucapnya.
“Jangan khawatir. Pasti kutunggu.” Rizal menunggu sampai Mahdi menghilang dari pandangan. Dari kejauhan, terlihat Mahdi masuk ke pusat perbelanjaan tersebut.
Tanpa ekspresi, Rizal mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. Ia menekan nomor-nomor tertentu, dan sesaat kemudian terdengar ledakan dahsyat dari dalam pusat perbelanjaan itu. Bumi terasa bergetar. Asap tebal terlihat mengepul ke luar, dan terjadi kebakaran kecil. Suara jeritan-jeritan panik sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Paket itu tampaknya bukan mercon biasa, seperti yang diduga Mahdi. Paket itu jelas adalah bom berkekuatan cukup besar, yang diledakkan dari jauh lewat sinyal elektromagnetik dari telepon genggam tadi. Rizal sejenak menatap suasana panik di pusat perbelanjaan itu, sebelum menghidupkan mesin mobilnya, berbalik arah, dan meninggalkan tempat itu.
***
Konferensi pers di kantor PT. Reformasi Kita telah usai. Hendra berbasa-basi sejenak dengan sejumlah jurnalis, sebelum mereka pergi. Hendra sempat memberi beberapa instruksi kepada staf perusahaan, lalu masuk ke mobilnya. Ia perintahkan sopirnya untuk menuju ke sebuah hotel berbintang. Ini hari yang melelahkan, dan ia ingin makan siang sendirian.
Mobil masuk ke hotel. Hendra menyuruh sopirnya menunggu dan beristirahat. Ia baru saja melangkah menuju lobi hotel, ketika telepon genggamnya berdering pelan. Hendra mengangkat teleponnya. “Hallo, apakah cuaca di Jakarta sedang mendung?” terdengar suara pria di saluran telepon itu.
Bangsat! Hendra mengutuk dalam hati. Kenapa setan satu ini menelepon di saat-saat begini? “Cuaca di Jakarta cerah,” sahutnya. Ini kode di antara mereka, untuk mengatakan bahwa suasana cukup aman untuk berkomunikasi secara bebas.
“Sialan kau, Firman! ‘Kan sudah kubilang, jangan hubungi aku dulu! Nanti pada saatnya, aku yang akan menghubungimu,” maki Hendra.
“Tenang, Pak Hendra. Saya hanya sekadar mengecek perkembangan. Saya sekarang di tempat yang aman. Pak Hendra tak bisa membayangkan, bagaimana lelahnya saya berperan sekian lama sebagai Rizal. Membujuk Mahdi, agar mau membawa paket bom itu, juga butuh teknik tersendiri. Soalnya, dia labil dan emosinya naik-turun. Tetapi, semua berakhir seperti yang direncanakan. Mahdi sudah tewas. Tak ada saksi yang bisa menghubungkan bom itu dengan saya, apalagi dengan Anda.”
Hendra mendengus. “Huh, aku sudah tahu itu.”
“Ide Pak Hendra, untuk menaruh buku-buku gerakan militan dan print-out teknik merakit bom di rumah kontrakan Mahdi, benar-benar brilian! Pak Hendra bahkan berhasil menggalang kondisi, dengan sengaja melontarkan pernyataan-pernyataan pro-Amerika di media massa, beberapa waktu lalu. Sementara ini, hal itu cukup memadai untuk menjelaskan motif dan cara tindakan bom bunuh diri Mahdi. Pemberitaan media massa pun tampaknya menelan mentah-mentah umpan itu.”
“Tutup mulutmu! Kau kubayar bukan untuk membuat analisis, tapi sekadar melakukan tugas yang kuberikan.”
“Saya mengerti, Pak,” terdengar suara Firman tertawa. Nadanya sabar. “Omong-omong, kapan bisa saya terima transfer uangnya? Saya berharap, tidak perlu menunggu sampai Pak Hendra menerima bayaran klaim asuransi, atas ledakan bom di pasar swalayan tersebut. Saya tahu, untuk klaim asuransi yang begitu besar, tentu prosesnya tidak bisa cepat.”
“Aku tak mau terlihat mencolok saat ini. Minggu depan akan kau terima bagianmu!”
“Terimakasih, Pak. Oh, ya. Apakah ada garapan lagi, yang bisa saya lakukan dalam waktu dekat ini?”
“Brengsek! Tidak sekarang. Ini masih terlalu cepat. Kau akan kukontak lagi nanti.”
“Baik, Pak. Selamat siang!” Hubungan telepon pun diputus.
Hendra tercenung sesaat. Ia memasukkan telepon genggamnya ke saku, lalu meneruskan langkahnya dengan perlahan ke kafe hotel. Ia merasa tak perlu terburu-buru. Masih cukup waktu untuk menikmati makan siang. ***


Depok, September 2003

Friday, July 30, 2004

IMPIAN KEABADIAN

Oleh Satrio Arismunandar

Pertama kali kubuka mata, yang tampak adalah sebuah kamar tidur yang mewah. Aku terbaring di atas ranjang berukuran besar. Seprainya tebal, terbuat dari bahan kualitas terbaik, berwarna biru muda. Selimutnya lembut, berbulu halus, dan harum. Di samping ranjang, ada bufet kecil dengan vas bunga di atasnya. Mawar merah segar yang ada di vas itu memberi suasana menyegarkan.
Dinding ruangan ini terkesan kokoh dan anggun, dilapisi kertas tembok mengkilap. Selain sebuah cermin besar, ada sejumlah lukisan tergantung di dinding. Salah satu lukisan menggambarkan seorang laki-laki dan perempuan, duduk bersanding mesra. Mereka tersenyum, seperti pasangan suami-istri yang berbahagia. Yang laki-laki terlihat gagah dan tampan, di usianya yang kutaksir sekitar awal 40-an. Sedangkan yang perempuan berambut panjang terurai, sangat jelita, berumur kira-kira sepuluh tahun lebih muda dari pasangannya. Selain itu, ada tiga foto terpisah, yang menunjukkan tiga gadis kecil dengan usia yang berbeda-beda. Mungkin ini tiga putri dari pasangan tersebut.
Tubuhku terasa nyaman dan enteng, seperti baru bangun dari tidur lelap yang panjang. Baru kuperhatikan kemudian, ternyata aku memakai piyama dari bahan katun halus. Aku pun bangkit dari pembaringan, dan duduk bersila di ranjang. Ada perasaan aneh yang tak kupahami. Aku tak tahu sedang berada di mana, dan bagaimana bisa sampai di ruangan ini. Yang lebih membingungkan lagi, aku bahkan tak ingat siapa diriku ini. Apakah aku sedang bermimpi?
Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan masuk, membawa segelas teh hangat dengan tatakan. Wajahnya persis perempuan di lukisan tersebut. Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika melihatku sudah bangun. “Ah, selamat pagi, Mas Yunus! Sudah bangun rupanya. Ini kubawakan teh aroma melati kesenanganmu,” ujarnya, seraya meletakkan segelas teh itu di meja kecil di samping tempat tidur.
“Mas Yunus? Kamu bicara denganku?” Aku masih tertegun menatapnya.
“Ya, tentu saja. Dengan siapa lagi?” sahutnya, sambil duduk di sisi tempat tidur. Tanpa canggung, ia memegang tanganku, lalu meraba dan mengusap dahiku. Seolah memeriksa, apakah aku menderita demam.
“Yunus? Namaku Yunus?”
“Tentu saja. Lengkapnya, Muhammad Yunus.”
“Aku…aku tak ingat siapa diriku,” ucapku, terbata-bata. Nama itu terasa asing di telingaku. Seperti nama dari sebuah dunia lain yang jauh.
Perempuan itu tersenyum, menenangkan. “Mas Yunus tak usah bingung. Dokter sudah memberitahu, sejak kecelakaan itu, Mas Yunus mengalami shock, sehingga menderita amnesia atau lupa ingatan untuk sementara. Namun, kata dokter, berangsur-angsur ingatan itu akan pulih seperti sediakala. Jadi, Mas tenang saja. Yang penting, Mas harus menjaga kesehatan dan banyak beristirahat.”
“Kecelakaan? Kecelakaan apa?”
“Sedan yang Mas tumpangi ditabrak bus, di kawasan perbukitan, dan masuk ke jurang. Pak Nabil Basalamah, sopir kantor yang menyetir mobil Mas, meninggal. Mas Yunus sendiri beruntung, hanya menderita luka ringan. Tapi Mas mengalami shock, yang berdampak pada kehilangan ingatan untuk sementara.”
“Begitukah? Mengapa aku tidak dirawat di rumah sakit?”
“Mas sempat dirawat di sana. Waktu itu mungkin Mas belum sadar betul. Kata dokter, untuk memulihkan ingatan dan mempercepat penyembuhan, suasana rumah di tengah keluarga justru lebih baik. Itulah sebabnya Mas dipindahkan ke sini.”
Sebagian hal mulai jelas bagiku, tetapi banyak pertanyaan lain belum terjawab. “Maaf, tapi aku tak mengenalmu. Siapakah kamu?” tanyaku.
“Aku Dian, Mas. Dian Kencana Dewi, istrimu. Kita sudah menikah selama tujuh tahun, dan punya tiga orang putri,” sahut perempuan berkulit kuning langsat itu. Aura wajahnya seperti bersinar. Ia memiliki sejenis kecantikan alami yang membuatku terpana.
“Betulkah?” Kutatap mata Dian yang bening hitam itu. Tampaknya dia jujur. Aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan baru ini. Kenyataan yang asing dan tak pernah kukenal. Aku bahkan belum sepenuhnya yakin, semua ini memang nyata. Kebimbanganku rupanya bisa dirasakan oleh Dian.
“Tidak percaya? Mari kutunjukkan!” Dian dengan sabar menarik tanganku. Kami berjalan ke depan cermin besar yang menempel di tembok. “Nah, coba perhatikan.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahku sendiri di cermin. Wajah seorang laki-laki yang gagah, tampan, namun sedikit kurang rapi, karena bulu-bulu kumis tipis dan janggut yang belum dicukur. Baru kemudian kusadari, wajahku persis sama dengan wajah laki-laki yang bersanding dengan Dian dalam lukisan besar di dinding. Ketika kami berdiri berdampingan di depan cermin, aku dapat membandingkan, ternyata wajah kami berdua di cermin ini tampak seperti kembaran wajah pasangan suami-istri dalam lukisan.
Entah mengapa, aku merasa lega. Di tengah belantara ketidakjelasan yang membingungkan ini, ternyata aku tidak sendirian. Istriku atau bukan, Dian adalah seorang lain yang menjadi bagian dari diriku, yang berbagi perasaan denganku, dan memahami situasiku. “Kamu…kamu cantik!” Terlepas begitu saja ucapan itu dari mulutku, sambil menatap bayangan Dian di cermin.
Dian tersenyum. Wajahnya agak memerah, senang. “Sebelum kejadian ini, Mas Yunus jarang sekali memujiku. Lucu. Ketika kehilangan ingatan, Mas justru memujiku. Senangnya, kalau Mas Yunus bisa terus begitu.”
Dian menarik lenganku, untuk kembali ke tempat tidur. Saat itulah pintu kamar terbuka. Tiga gadis kecil menghambur masuk ke ruangan. “Papa! Papa!” seru mereka padaku. Yang terkecil dan paling lucu, berumur sekitar lima tahun, memeluk kakiku. Rambutnya dipotong pendek model poni. Kakaknya, yang berusia sekitar tujuh tahun, memegang tanganku. Yang terbesar, berusia sekitar sembilan tahun, berdiri di belakangnya.
“Inikah anak-anak kita?” tanyaku pada Dian.
“Ya. Yang terkecil dan imut ini Mutia. Dia baru masuk Taman Kanak-Kanak. Kakaknya, Asty Rastiya, sudah kelas I Sekolah Dasar. Yang sulung, Annisa, sudah kelas III. Sebelum ini Mas Yunus terlalu sibuk bekerja, sehingga jarang punya waktu untuk anak-anak. Tak heran, mereka sangat kangen padamu.”
“Sibuk bekerja? Apa pekerjaanku?”
Dian tertawa. “Pekerjaan Mas Yunus? Mas Yunus adalah pemilik grup perusahaan PT. Media Kita Bersama, yang membawahi satu stasiun televisi, sepuluh stasiun radio komersial, satu pasar swalayan, dan sebuah bank swasta. Sebenarnya beberapa hari terakhir ini, banyak staf, bawahan dan relasi bisnismu yang mau menjenguk. Tapi kularang dulu, karena Mas Yunus butuh istirahat.”
Pemilik dari sekian banyak perusahaan! Hebat! Tak pernah kubayangkan bahwa aku begitu kaya raya. Kalau semua ucapan Dian itu benar, berarti aku ini bukan orang sembarangan. Ya, Tuhan. Kejutan apa lagi yang belum kuketahui?
“Papa! Temani Mutia ke kebun binatang dong!” rengek Mutia, membuyarkan anganku.
“Iya. Papa dulu juga janji mau menemani Asty berenang. Tapi nggak pernah sempat,” timpal Asty, yang berambut pendek dan bertubuh agak kurusan.
“Papa sih sibuk sama urusan kantor terus!” tambah Annisa. Sebagai anak sulung, Annisa yang mengenakan celana jeans biru ini, memang tampak paling dewasa.
“Sebentar, anak-anak! Papa masih kurang sehat dan harus banyak istirahat. Nanti kalau sudah sembuh betul, pasti Papa akan menemani kalian ke manapun kalian mau. Betul ‘kan, Papa?” tukas Dian.
“Iya. Betul,” sahutku begitu saja.
“Nah, kalian dengar sendiri janji Papa. Sekarang main di luar dulu, ya? Soalnya Papa harus istirahat,” bujuk Dian.
“Yaaaaah, Papa!” Mutia tampak agak kecewa. Mulutnya memberengut, lucu.
“Papa nggak bohong, ‘kan? Kalau sudah sembuh, Papa akan pergi berenang bersama kami?” ucap Asty.
“Tentu. ‘Kan Papa sudah janji!” jawabku, sekenanya. Anak-anak ini mengharapkan aku menjadi ayah yang baik. Mereka tak paham, bahkan untuk sekadar menjadi “ayah” mereka saja, aku sedang berusaha menyesuaikan diri. Apalagi menjadi “ayah yang baik!” Namun, meski agak kikuk, aku tak tega mengecewakan mereka.
“Daaag, Papa! Kami tinggal dulu, ya?” ujar Annisa sambil mencium pipiku. Ia diikuti oleh Asty dan Mutia. Tiga gadis kecil itu lalu pergi meninggalkan kamar. Kamar pun kembali sepi. Hanya aku dengan Dian, yang duduk di sisi ranjang.
“Mereka anak-anak yang baik,” ujarku.
“Memang. Mereka memberi warna, kesegaran dan keceriaan pada perkawinan kita.”
“Dian, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu hal yang agak bersifat pribadi. Bolehkah?”
“Tentu saja boleh. Tanyailah aku apa saja, sesuka Mas Yunus.”
Kutatap wajahnya lekat-lekat. “Maafkan, Dian. Aku terus terang belum terbiasa dengan semua ini, juga tentang hubungan kita. Bisakah kau ceritakan, kapan dan bagaimana dulu kita pertama kali bertemu?”
Dian tertawa. “Oh, kita berkenalan di acara outbound, yang diadakan oleh perusahaan untuk para karyawan baru. Aku waktu itu karyawan yang baru lulus pelatihan. Ketika berjalan meniti tambang di tempat ketinggian, dalam latihan outbound itu, aku terjatuh dan cedera. Mas Yunus, sebagai pimpinan perusahaan waktu itu, menjengukku di rumah sakit. Kita menjadi akrab sejak peristiwa tersebut. Setahun kemudian, kita pun menikah.”
“Tolong katakan padaku, Dian. Selama tujuh tahun perkawinan kita, apakah kau merasa bahagia? Suami seperti apakah aku selama tujuh tahun itu? Apakah aku ini suami yang baik? Suami yang bertanggung jawab?”
Tangan Dian meraba pipiku. Matanya balas menatapku dengan pandangan sejuk. “Mas Yunus, seandainya waktu bisa diputar kembali ke masa lampau, aku bersedia jatuh dan cedera lagi dalam latihan outbound, agar aku bisa bertemu dan menikah denganmu. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah mempertemukan kita. Ya, aku sangat bahagia hidup bersamamu. Umur perkawinan kita adalah tujuh tahun terindah dalam hidupku.”
“Tapi, Mas Yunus yang kau cintai adalah diriku yang dulu. Yunus yang penuh ingatan dan kenangan denganmu,” tukasku. “Sedangkan diriku yang sekarang adalah manusia tanpa ingatan, tanpa kenangan masa lalu, dan karena itu juga tanpa ikatan emosi. Bagaimana kau bisa mencintai manusia tanpa masa lalu, seperti aku sekarang ini?”
“Bagiku, Mas Yunus yang sekarang tetap sama dengan Mas Yunus yang dulu. Tak ada yang berubah dalam perasaanku.”
“Kita berandai-andai sekarang. Seandainya…ya, seandainya ingatanku tak pernah kembali pulih seperti dulu, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan tetap menganggapku sebagai suamimu? Suami yang sama dengan yang kau kenal selama tujuh tahun terakhir ini? Padahal, saat ini pun aku baru saja belajar untuk mengenalmu!”
“Apapun yang dialami Mas Yunus, aku tetap mencintaimu. Kalau pun sekarang Mas Yunus tidak mengenal Dian, atau --lebih tepat—kehilangan kenangan tentang Dian, kita berdua bisa belajar dari awal lagi, untuk saling mencintai. Bukankah itu sesuatu yang menakjubkan? Kita memulai kehidupan baru, betul-betul baru, dan membangkitkan rasa cinta yang baru, sesudah tujuh tahun menikah?”
“Apakah itu mungkin?”
“Mengapa tidak?”
“Dian, aku hidup tanpa ingatan dan tanpa kenangan tentang masa lalu. Inilah yang membedakan kita. Terlepas dari baik-buruknya masa lalu itu, bagaimana orang bisa hidup tanpa masa lalu? Bukankah kita bisa memahami dan memaknai hari ini, karena kita telah mengalami hari-hari kemarin? Bukankah kita dapat merancang hari esok, karena kita telah menjalani hari ini?”
“Ya. Masa lalu memang membantu kita memaknai hari ini,” Dian menggengam jemariku. “Namun, masa lalu juga bisa menjadi beban atau rantai, yang membelenggu kita. Betapa banyak orang yang menderita, karena jiwanya tertambat di masa lalu. Namun, perputaran roda nasib telah membebaskan Mas Yunus dari masa lalu. Meski usia Mas Yunus sudah 43 tahun, engkau saat ini adalah seperti bayi yang terlahir kembali. Hari ini dan hari esok adalah milik Mas Yunus. Lepaskan, ikhlaskan masa lalu itu, Mas. Buang jauh-jauh beban dan belenggu itu. Hari ini, kita memiliki kesempatan untuk merasa bahagia. Rengkuhlah itu! Jangan sia-siakan itu.”
Kata-kata Dian membuatku termenung. Ya, mengapa jiwaku selalu tertambat pada “masa lalu?” Aku tak ingat, apa yang telah kualami di hari-hari kemarin. Namun, dengan sabar menjalani hari ini, dan menyongsong matahari esok pagi, bukankah sebenarnya aku telah membentuk masa lalu juga? Meskipun baru satu hari.
Biarlah waktu berjalan. Perlahan-lahan, sehari demi sehari, aku akhirnya juga akan memiliki “masa lalu yang baru.” Tentu, itu tak sama dengan masa lalu yang pernah kumiliki dan kini sudah kulupakan. Tetapi itu tetaplah masa lalu. Aku akan punya “masa lalu yang baru.” Dan aku akan membentuknya bersama keluargaku. Bersama Dian, dan anak-anakku Mutia, Asty, dan Annisa.
Seperti mentari pagi yang menyibak kegelapan malam, aku merasa memperoleh pencerahan. Pikiranku kini terasa jernih dan tenang. Dadaku lega dan lapang. Aku telah mengambil keputusan. Kupegang erat jemari Dian. “Panggillah anak-anak sekarang, Dian! Aku akan menemani mereka ke kebun binatang, berenang atau kemana pun mereka mau! Mereka layak berbahagia,” ujarku.
“Apa maksudmu, Mas? Bukankah kau masih lelah? Tidakkah kau ingin beristirahat dulu?”
“Tidak. Aku saat ini justru merasa sehat sesehat-sehatnya. Aku telah memutuskan untuk menciptakan masa lalu yang baru, dengan menjalani sepenuhnya hari ini dan hari-hari esok. Aku ingin menyia-nyiakan satu hari pun. Sebaliknya, aku akan mengisinya dengan melakukan semua hal yang bisa membahagiakanmu, Dian. Juga membahagiakan Mutia, Asty dan Annisa. Kita akan menjalaninya bersama-sama!”
Senyum Dian mengembang. Aku dapat merasakan kebahagiaannya, sebagai seorang istri yang suaminya telah “kembali.” Ia membuka pintu kamar, dan memanggil anak-anak masuk. Kudengar sorakan gembira Mutia, Asty dan Annisa, ketika Dian memberitahu bahwa kami sekeluarga akan pergi bertamasya. Mereka pun menghambur dalam pelukanku. “Papa! Papa! Ayo kita berangkat sekarang! Ayo, Mama!”
Aku merasakan seolah-olah ruangan itu dipenuhi cahaya. Cahaya lembut yang damai. Cahaya di atas cahaya. Cahaya bening dengan nuansa warna yang tak pernah kulihat, dan tak pernah terbayangkan, sekalipun di dalam mimpi. Yang kurasakan sekarang hanyalah kedamaian. Damai. Oh, kebahagiaan yang sempurna…

***
Kondisi Muhammad Yunus Kritis

JAKARTA, KOMPAS - Kondisi Muhammad Yunus, Ketua Serikat Karyawan PT. Industri Nusantara, yang mengalami koma dan tak sadarkan diri sejak dua hari lalu, semakin kritis. Hal itu diungkapkan Dokter Agus Riyadi, yang merawat Yunus sejak masuk ke ruang ICU RS. Cipto Mangunkusumo, dalam temu pers di kantornya, kemarin.
Menurut Agus, Yunus bisa bertahan hidup berkat dukungan alat-alat kedokteran, yang memberikan oksigen dan nafas buatan. Namun, jika alat-alat itu dicabut, Yunus diperkirakan tak akan bisa bertahan. “Itu dari segi perhitungan medis. Namun, bagaimanapun juga, hidup-mati di tangan Allah. Kita tak boleh berhenti berusaha dan berdoa. Semoga ada keajaiban,” sambungnya.
Namun, sumber-sumber di kalangan kedokteran menyatakan, melihat kondisinya tampaknya nyawa Yunus sulit diselamatkan. Hal ini karena luka di kepalanya, yang menyebabkan ia tak sadarkan diri, sudah terlanjur parah. Meski demikian, pihak RSCM terus mengupayakan berbagai cara, untuk memulihkan kondisi Yunus.
Kasus Yunus menjadi isu nasional, setelah terjadi bentrokan berdarah antara aparat keamanan dengan sekitar 8.000 karyawan PTIN, yang berunjuk rasa menolak PHK besar-besaran, yang ditetapkan secara sepihak oleh Direktur Utama PTIN, Mufthi Akbar. Unjuk rasa itu yang damai itu berakhir dengan bentrokan, diduga karena ulah preman atau provokator yang menyusup dalam demo karyawan.
Mereka melempari aparat dengan batu dan merusak aset perusahaan. Aparat pun melepaskan tembakan secara membabi-buta. Akibatnya, 65 karyawan luka-luka, 10 di antaranya cukup parah. Nabil Basalamah, salah satu pengurus Serikat Karyawan tewas tertembak. Sedangkan, kepala Yunus luka parah kena pukul popor senapan, dan ia langsung rubuh tak sadarkan diri, hingga saat ini.
Berbagai organisasi nonpemerinmtah, serikat pekerja, dan LBH mengecam cara pemerintah menangani masalah ini, yang dianggap terlalu represif. Menanggapi kritik itu, Kapolda Inspektur Jenderal Polisi Gatot Triyanto mengatakan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus bentrokan itu, dan akan menghukum anak buahnya, jika terbukti bersalah.
Selama dua hari ini, berbondong-bondong, rekan kerja di PTIN dan para aktivis serikat pekerja menengok Yunus, yang masih mengalami koma di RSCM. Bahkan Menteri Tenaga Kerja, Ponco Wijaya, ikut menjenguk ke rumah sakit. Kepada para wartawan, Ponco berjanji akan memperjuangkan nasib karyawan PTIN dalam kasus ini.
Dalam temu pers, Dian Kencana Dewi, istri Yunus, tampak masih sangat terguncang. Matanya selalu berlinang. “Mas Yunus membaktikan seluruh tenaganya untuk membela nasib karyawan lain. Padahal, hidup kami sendiri sangat kekurangan. Namun, yang saya sedihkan bukan soal materi. Saya sedih, karena merasa gagal membahagiakannya. Ia sangat ingin punya anak. Namun, selama tujuh tahun perkawinan kami, kami belum dikaruniai anak seorang pun. Itulah keinginannya yang belum tercapai,” ujar Dian, yang saat itu didampingi kakaknya, Wulan.
Budi Afriyan, sahabat Yunus yang juga aktivis serikat karyawan, menyatakan: “Yunus tak pernah setengah-setengah dalam membela karyawan. Sosoknya yang gigih memberi inspirasi pada seluruh karyawan PTIN untuk terus berjuang. Saya sempat menjenguknya di ruang ICU tadi siang. Aneh, meski kondisinya sangat kritis, wajahnya terlihat begitu teduh dan damai. Mulutnya bahkan seolah-olah tersenyum. Tapi, mungkin ini hanya perasaan saya saja.” (arb) ***

Depok II Tengah, Juli 2004

Seorang Perempuan Amerika di Baghdad

Pertama kali aku bertemu Nancy Goodhead adalah ketika pesawat Iraqi Airways, maskapai penerbangan Irak, yang kami tumpangi baru saja mau meninggalkan bandar udara Alia di Amman, Yordania. Waktu itu Desember 1990, beberapa bulan sesudah tentara Irak menyerbu Kuwait, dan kemudian pasukan multinasional yang dipimpin Amerika Serikat sudah mencanangkan serangan ke Irak.
Ribuan orang, termasuk para diplomat dan pekerja asing, meninggalkan Irak untuk menghindari perang. Namun, di bawah bayang-bayang serangan Amerika dan sekutunya, sejumlah orang justru mau masuk ke Irak. Salah satunya adalah aku, sebagai anggota organisasi perdamaian, yang berkepentingan untuk mencegah perang. Mereka yang memilih masuk ke Irak, umumnya hanyalah warga Irak sendiri, petugas PBB, jurnalis, atau aktivis perdamaian dan kemanusiaan.
Dalam antrean, ketika mau memasuki pesawat, kopor Nancy –yang waktu itu belum kukenal-- jatuh. Aku membantu mengambilkannya. "Terimakasih," ujarnya, sambil tersenyum ramah. Ia mengenakan jeans biru, sweater merah jambu dan jaket kulit hitam. Rambutnya yang panjang sebahu berwarna kecoklatan. Kutaksir, umur perempuan ini sekitar 32 tahun.
"Apakah Anda datang ke Irak, juga sebagai anggota kelompok perdamaian?" ia bertanya.
"Ya. Saya dari Indonesia. Saya tergabung dalam Gulf Peace Team, organisasi perdamaian yang berbasis di London dan didirikan oleh Yusuf Islam. Anda tentu tahu, dulu ketika masih menjadi musisi dunia, namanya Cat Stevens," sahutku.
"Ah, ya. Tentu saja. Salah satu lagunya sangat saya sukai. Judulnya, kalau tak salah Morning has broken, bukan?" tuturnya. "Maaf, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Nancy. Saya tergabung dalam organisasi perdamaian The Coalition for World Peace and Friendship. Ini organisasi Amerika, saya juga orang Amerika. Tetapi kami menentang perang, sama seperti Anda."
Ternyata kami dapat tempat duduk bersebelahan di pesawat. Maka, sepanjang penerbangan dari Amman ke Baghdad, ibukota Irak, kami mengobrol tentang banyak hal. Nancy mengaku berasal dari Ohio. Ia pernah menikah, tanpa dikaruniai anak, kemudian bercerai. Ia sudah bergabung dengan organisasi perdamaian dalam beberapa bulan terakhir, sesudah berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan perangkat lunak komputer.
Pekerjaan tersebut sebetulnya cocok dengan bidang ilmunya, sebagai lulusan jurusan teknologi informasi di Columbus State University. Nancy berhenti dari pekerjaannya, dengan alasan, "ingin mencari pekerjaan baru yang lebih banyak berinteraksi dengan manusia lain." Sambil menunggu memperoleh pekerjaan lain, ia ikut aktif di organisasi perdamaian. Menurut Nancy, krisis Irak ini menyentuh perasaannya untuk terlibat lebih dalam, dengan terjun langsung dalam aksi menentang perang.
Tak terasa pesawat kami sampai di Bandara Internasional Saddam, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Baghdad. Kabut tipis ditambah udara yang dingin --waktu itu memang sedang musim dingin di Irak-- menambah murung suasana. Menurut rencana, kami para aktivis perdamaian akan segera menggelar demo antiperang di Baghdad, dalam dua-tiga hari mendatang.
Dan sebagai puncaknya, kami akan mengadakan kemah perdamaian di perbatasan Irak -Arab Saudi. Ini merupakan aksi simbolis, karena para aktivis merelakan diri menjadi "perisai manusia" di antara posisi dua kubu yang mau berperang. Di wilayah Arab Saudi, saat itu telah bercokol puluhan ribu pasukan multinasional yang dipimpin Amerika.

***

"Ah, selamat datang! Selamat datang di Irak. Mohon maaf atas penyambutan kami yang apa adanya ini," sambut seorang pria Irak kepada kami, rombongan aktivis perdamaian. Tubuhnya tinggi, dan terkesan atletis. Ia kelihatan tampan, dengan kumis dan alisnya yang tebal. Namun, yang paling mengesankan bagiku adalah sorot matanya yang bening dan polos. Kelihatannya tidak pas dengan postur tubuhnya yang lebih garang.
"Perkenalkan, nama saya Saeed Mursheed al-Majeed. Saya adalah staf dari Departemen Luar Negeri Irak. Saya ditugaskan menjadi pemandu Anda, sekaligus melayani berbagai kebutuhan Anda selama di Irak ini. Mari ikut saya. Mobil sudah menunggu," ujarnya.
Ada sederetan mobil sedan dan van yang sudah menunggu kami. Aku, Nancy, dan Saeed kebetulan mendapat mobil yang sama. Nancy dan Saeed duduk di kursi depan, aku di belakang. Bersamaku di kursi belakang, aktivis perdamaian asal Jepang, Miyuki Nakajima, dan aktivis asal India, Prabha Jagannatan.
Mobil kami meluncur memasuki kota Baghdad, menyusuri pinggiran Sungai Tigris yang lebar dan indah itu. Jalan yang kami lalui lebar dan mulus. Benar-benar infrastruktur perkotaan yang bagus, yang dibangun dengan uang minyak. Baghdad adalah kota tua. Di masa kejayaannya, ketika Paris dan London masih desa kecil yang tak dikenal, dan Christopher Columbus belum menginjakkan kakinya di benua liar yang sekarang bernama Amerika, Baghdad sudah menjadi kota metropolitan yang makmur.
Kami menuju ke tempat penginapan sementara di Baghdad, sebelum berangkat ke perbatasan Irak–Arab Saudi. Orang terlihat di jalan-jalan. Denyut kehidupan di kota seribu satu malam ini seolah berjalan normal. Namun ketidaknormalan akan terasa, jika kita melihat ke atas. Di beberapa atap gedung kulihat moncong-moncong ZSU-23, senjata anti-serangan udara buatan Rusia, kaliber 23 mm. Senjata-senjata ini menengadah ke langit, seolah-olah tak sabar menyongsong datangnya pesawat-pesawat musuh.
Saeed termasuk pria menyenangkan. Sepanjang perjalanan, ia cepat akrab dengan para tamunya, terutama dengan Nancy. Saeed bercerita tentang macam-macam hal, mulai dari desa asalnya, kuliahnya, karirnya, dan keterlibatannya di tugas ini. Salah satu hal yang ikut mendorong karirnya di Departemen Luar Negeri adalah asal kelahirannya di Desa Tikrit, yang juga tempat kelahiran Presiden Irak Saddam Hussein. Sejauh informasi yang kudengar, Saddam memang menjadikan orang-orang dari kampung halamannya sebagai basis pendukung yang setia.
Sebagaimana layaknya pemuda Irak lain, yang berdedikasi pada karir, Saeed juga jadi anggota Partai Ba'ath. Partai berideologi campuran sosialisme dan nasionalisme Arab ini adalah partai yang berkuasa di Irak. Jadi, Saeed memang di jalur karir yang tepat. Sayangnya, lulusan jurusan sosiologi Universitas Baghdad ini belum menikah, meski umurnya kuduga sudah 35 tahun. Katanya sambil tertawa, "Belum menemukan calon pendamping yang cocok."
"Apakah calon pendamping Anda harus orang Irak? Atau orang Arab?" cetus Nancy.
"Oh, tidak. Saya bilang, pendamping yang cocok. Artinya, bisa orang dari mana saja," sahut Saeed. Lalu ia melanjutkan, setengah menggoda, "Mengapa Anda bertanya begitu? Apakah Anda punya calon untuk saya?"
Nancy tersenyum. "Pertanyaan itu belum bisa saya jawab sekarang."
Begitulah, sejak awal perkenalan Nancy dan Saeed, aku sudah melihat tanda-tanda ke arahnya mendekatnya hubungan antara mereka. Proses ini pun berlanjut. Sore itu, ketika kami sudah tiba di penginapan dan bersiap untuk perjalanan ke perbatasan besoknya, aku beberapa kali memergoki Nancy dan Saeed sedang mengobrol berdua.
Pada malam harinya, aku, Miyuki dan Prabha mengisi waktu dengan berjalan-jalan di pinggiran Sungai Tigris. Di sebuah restoran ikan bakar di pinggir sungai, kami sekali lagi bertemu Saeed dan Nancy. Keduanya menyapa kami dengan ramah, dan mengajak kami bergabung. Kami pun bergabung, dan jadilah malam itu malam yang akrab untuk kami semua. Sambil menyantap ikan bakar, di bawah kerlap-kerlip bintang di langit kota Baghdad, untuk sesaat kami lupa bahwa perang siap pecah kapan saja.

***

Saeed dan Nancy berasal dari dua negara yang sedang berperang. Tetapi hubungan antara mereka adalah sesuatu yang kupikir lebih mendasar, hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ini soal perasaan, soal kebutuhan manusia. Tidak ada hubungannya dengan politik antarnegara. Setidaknya itulah yang kulihat waktu itu. Aura Baghdad, kota kuno yang pernah menjadi pusat kekhalifahan dinasti Abbasiyah ini, tampaknya memberi romantisme tersendiri.
Hari berikutnya, karena kebersamaan dalam kegiatan kelompok perdamaian, aku makin akrab dengan rekan-rekan lain di kelompok ini, termasuk tentunya dengan Nancy dan Saeed, yang sebetulnya bukan anggota tim perdamaian. Kami melakukan aksi unjuk rasa anti-perang di Baghdad, bersama kelompok pelajar sekolah menengah Irak. Lalu malam harinya, ada acara meditasi bersama untuk perdamaian, yang dipimpin Yunichiro Miyazawa, seorang pendeta Syinto dari Jepang.
Esok paginya, kami berangkat ke perbatasan Irak-Arab Saudi, untuk mendirikan kemah perdamaian. Namun, kami hanya sempat seminggu tinggal di situ, karena pemerintah Irak lalu memulangkan kami semua ke Baghdad. Alasannya, perang tampaknya akan segera pecah. Pemerintah Irak khawatir, kami akan menjadi korban, dan pemerintah di Baghdad tak ingin disalahkan karena hal-hal tersebut.
Tiga hari kemudian, perang memang betul-betul pecah. Malam itu langit kota Baghdad memerah. Sejumlah gedung pemerintahan meledak dan terbakar, ketika bom-bom dari pesawat koalisi pimpinan Amerika mulai berjatuhan. Suara sirene tanda bahaya meraung-raung, diselingi rentetan tembakan dari artileri dan senjata anti-serangan udara Irak.
Misi perdamaian kami gagal. Aku memutuskan pulang ke Indonesia, karena praktis tak ada lagi yang bisa kulakukan. Prabha dan Miyuki juga punya pikiran serupa. Sedangkan Nancy mengatakan, masih akan tinggal beberapa hari lagi di Baghdad. Ia tak mengatakan alasannya, tapi kuduga karena ia tak ingin cepat-cepat berpisah dari Saeed.
Esoknya, aku, Miyuki dan Prabha pulang dengan jalan darat ke Amman, Yordania, karena semua penerbangan ke dan dari Irak sudah ditutup. Saeed dan Nancy mengantar kami sampai taksi yang kami carter. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk tetap saling kontak. Saeed dan Nancy melambai, ketika taksi kami melaju meninggalkan tempat penginapan.
Aku tak banyak mendengar kabar lagi tentang Saeed dan Nancy sesudah itu. Tetapi, kemudian kudengar kabar dari Miyuki, yang sering mengirim e-mail kepadaku, bahwa setahun sesudah berakhirnya Perang Teluk, persisnya tahun 1992, Nancy dan Saeed menikah di Baghdad. Saeed tetap bekerja di Deplu Irak. Karirnya makin menanjak. Sedangkan Nancy kemudian bekerja di sebuah badan PBB, yang mengurusi program bantuan pangan untuk Irak.

***

Aku baru bertemu Saeed lagi tahun 1999. Ia sedang mengunjungi Kedutaan Besar Irak di Jakarta, dalam suatu tugas dari kantornya. Saeed meneleponku, dan kami pun bertemu di sebuah restoran makanan Arab di Jalan Raden Saleh. Sambil menyantap kebab, kami mengobrol tentang masa lalu, ketika perang tahun 1991. Tetapi, yang lebih ingin kuketahui adalah kabar tentang Nancy, istri Saeed sekarang.
"Aku minta maaf, Rio, tidak memberi kabar padamu tentang pernikahan kami waktu itu. Semua berlangsung begitu cepat, dan aksesku keluar juga sangat sempit. Untunglah, Nancy masih menjaga kontak dengan Miyuki, sehingga kaupun akhirnya tahu tentang pernikahan kami," tutur Saeed. Ia tampak sedikit lebih tua, tapi senyumnya masih ramah seperti Saeed yang kukenal dulu. Namun senyumnya kali ini tidak betul-betul lepas, seperti ada yang mengganjal.
Dari obrolan berikutnya, aku membaca keprihatinan Saeed. Ini berkait dengan Nancy. Selama ini tidak ada persoalan serius di antara mereka, kecuali satu: soal anak. Nancy tidak mau atau belum mau punya anak. Menurut penuturan Saeed, alasan yang dikeluarkan Nancy macam-macam. Mulai dari kesibukan di karir dan pekerjaan, yang membuatnya terlalu lelah dan tak punya waktu mengurus anak, serta berbagai alasan lain.
Alasan ini tak bisa dipahami Saeed. Malah bisa dikatakan, sejak awal menjalin hubungan, ia tidak pernah memperkirakan masalah ini akan muncul di antara mereka. Sebaliknya, dari sisi Saeed, sebagai seorang pria Arab yang sudah berkeluarga, masalah anak dan keturunan ini sangat penting. Ia mengaku tetap mencintai Nancy, tetapi soal anak ini merenggangkan hubungan mereka. Saeed masih berusaha mempertahankan perkawinan ini, dengan harapan cepat atau lambat Nancy akan berubah pikiran.
"Itulah, Rio. Sayang, aku tak bisa tinggal lama di Jakarta. Kontaklah aku kalau kau mau ke Baghdad. Meskipun Irak masih menderita akibat embargo PBB, kondisi Baghdad sekarang sudah lebih baik. Berbagai kerusakan akibat pemboman Amerika tahun 1991 sudah diperbaiki. Kita akan makan ikan bakar di pinggir Sungai Tigris, seperti dulu lagi," ujarnya. Itulah ucapan Saeed terakhir yang kuingat, sebelum ia pulang kembali ke negerinya.
Sesudah itu, karena kesibukan masing-masing, aku jarang berkontak lagi dengan Saeed. Sekali dua kali, aku menerima kiriman surat atau kartu posnya. Aku tak pernah membayangkan, kenangan akan Nancy dan Saeed akan muncul lagi justru dalam situasi yang sangat buruk, setelah Amerika dan Inggris mengagresi Irak, Maret 2003. Ketika televisi menayangkan gambar gedung-gedung kota Baghdad, yang hancur dan terbakar, akibat dibombardir secara membabi-buta oleh mesin militer canggih Amerika, aku hanya bisa bertanya: Di mana Saeed dan Nancy? Bagaimana kabar mereka? Apakah mereka selamat?
Aku sempat bertanya ke Kedutaan Irak di Jakarta, tetapi pejabat di sana hanya bisa angkat bahu, karena kontak dengan pemerintah di Baghdad sudah terputus. Bahkan, apakah masih ada pemerintahan yang efektif di Baghdad, juga tanda tanya besar. Secara tak terduga, kabar tentang Nancy dan Saeed justru kuperoleh dari Ahmad Walid, temanku dan reporter Trans TV yang bertugas meliput agresi Amerika-Inggris di Irak. Ahmad mengenalku, sejak secara intensif meliput gerakan antiperang dan beberapa kali mewawancaraiku.
"Mas Rio yang baik," begitu awal pesan e-mail yang dikirimkan Ahmad untukku. "Ketika meliput di Baghdad, saya sempat bertemu seorang pejabat Deplu Irak. Namanya Saeed Mursheed al-Majeed. Ketika ia tahu saya jurnalis dari Indonesia, ia langsung bertanya, apakah saya kenal Mas Rio. Ia sangat gembira, ketika saya katakan bahwa saya berteman dengan Anda. Maka, ia minta izin, menulis pesan pribadi buat Mas Rio. Untuk menjaga hubungan baik, saya membolehkannya meminjam notebook saya, buat menulis surat. Surat itu saya sampaikan ke Mas Rio, dalam attachment file di bawah ini."
Kubuka attachment file dalam e-mail Ahmad itu. Dan kukenali baris-baris kalimat yang ditulis Saeed. Aku merasa napasku jadi sesak. "Rio, aku tak tahu, dosa apa yang telah kuperbuat sehingga aku harus mengalami semua ini. Mungkin kau juga memantau berita tentang perang di Irak, bahwa 10 hari lalu, televisi Irak menayangkan gambar sejumlah warga, yang dituduh bekerja sebagai mata-mata Badan Intelijen Pusat Amerika, CIA. Satu hal yang tidak disampaikan di berita itu adalah dinas intelijen Irak juga telah menangkap Nancy! Ya, Nancy! Kau tidak percaya, bukan? Demi Allah, aku pun tak bisa percaya."
Kuteruskan membaca. "Tapi Mukhabarat atau pihak intelijen Irak menunjukkan bukti alat-alat telekomunikasi, yang ditemukan di tempat tersembunyi, di tempat penginapan Nancy di Basra. Karena sering bertugas jauh di luar kota Baghdad, Nancy memang mengontrak sebuah rumah untuk tempat tinggalnya di sana. Aku tak pernah tahu soal alat-alat telekomunikasi itu. Gara-gara itu, aku pun diinterogasi Mukhabarat selama dua hari berturut-turut. Syukurlah, sejauh ini mereka percaya, aku tak terlibat dan tak tahu-menahu sama sekali dengan urusan alat telekomunikasi itu."
"Namun, yang paling membuatku khawatir dan sedih, mereka membawa Nancy. Aku tak tahu di mana Nancy sekarang, dan bagaimana nasibnya. Tetapi sekarang aku mengerti satu hal, yang selama ini mengganggu perkawinan kami. Kalau betul, Nancy adalah agen CIA, semuanya menjadi jelas. Ia menikahiku, karena aku adalah anggota Partai Ba'ath dan berprospek menjadi pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri Irak. Tanpa kusadari, aku menjadi sumber informasi tangan pertama, tentang apa yang berlangsung di dalam pemerintahan Saddam Hussein."
"Namun entah kenapa, apapun niat awalnya menjalin hubungan denganku, aku percaya, Nancy benar-benar mencintaiku atau mulai benar-benar mencintaiku. Dan ia sadar, ia tengah berperang dengan perasaannya sendiri. Nancy tahu, kehadiran seorang anak akan makin memperumit situasi yang ia hadapi. Karena, hati kecil dan nalurinya sebagai seorang ibu, pasti akan cenderung mengikatnya pada keluarga dan suami. Di sisi lain, kehadiran anak sudah pasti akan mengganggu tugasnya sebagai agen."
"Itulah yang kualami, temanku. Perang terus berkecamuk di Irak. Negeriku hancur, dan kehidupanku pun hancur. Dengan menceritakan ini padamu, aku tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya sedikit ingin melegakan hatiku yang galau ini. Aku tak tahu, mesti bercerita pada siapa lagi, karena makin sedikit orang yang bisa menjadi tempat mencurahkan isi hati di Baghdad ini. Dan mereka pun tak punya waktu untuk mendengarkan kisahku, karena di bawah bawah bayang-bayang kematian dan hujan bom dari pesawat-pesawat Amerika, setiap orang di Baghdad ini memiliki kisah sedih sendiri-sendiri... Salam dari Baghdad. Temanmu selamanya, Saeed."
Itulah pesan terakhir yang kuterima dari Saeed. Kira-kira seminggu kemudian, aku kembali menerima e-mail dari Ahmad Walid. Isinya singkat: "Mas Rio, saya ingin menyampaikan berita duka. Kemarin malam, sebuah bom Amerika menghancurkan gedung Deplu Irak jadi puing-puing. Sebelas orang tewas dan 36 lainnya luka-luka akibat bom berkekuatan besar itu. Sebagian besar korban adalah warga sipil, dan salah satu yang tewas adalah teman Anda, Saeed..."
Ah, betapa anehnya permainan nasib ini. Aku hanya bisa tercenung dan bersedih untuk Saeed. Namun, betapapun tragisnya, nasib Saeed sudah jelas. Sedangkan tentang Nancy, masih belum jelas. Hanya sebuah berita yang samar-samar, pernah kudengar dari laporan Owen Lazenby, seorang wartawan televisi BBC di Irak. Katanya, Nancy termasuk salah satu warga asing, yang diselamatkan oleh pasukan khusus Amerika. Ketika itu, mereka menyerbu sebuah rumah sakit di kota Nasiriyah, Irak Selatan, untuk membebaskan enam tentara Amerika yang ditawan, dan secara tak terduga menemukan Nancy di sana.
Aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang Nancy, setelah itu. Mungkin, lebih baik begitu. Karena aku tak tahu, apa yang harus kukatakan atau kulakukan, kalau bertemu lagi dengannya. Kebenaran tentang Nancy yang betul-betul kuyakini cuma satu. Seorang perempuan Amerika yang pernah kukenal di Baghdad.

Depok II Tengah, April 2003.