TERORIS YANG SEBENARNYA
Oleh Satrio Arismunandar
Ruang konferensi pers, di gedung grup perusahaan Reformasi Kita, siang itu penuh dengan jurnalis dari dalam dan luar negeri. Sejumlah jurnalis televisi tampak sibuk dengan kamera mereka yang besar. Mereka terlihat sangat antusias. Bisa dimaklumi, karena Hendra Priyatna, Direktur Utama PT. Reformasi Kita, yang membawahi sejumlah pasar swalayan dan pusat perbelanjaan besar, akan memberi keterangan pers tentang aksi teror terhadap perusahaannya.
Empat hari yang lalu, sebuah bom meledak di salah satu pusat perbelanjaan besar milik Hendra, sehingga menewaskan dua karyawan dan tiga pengunjung, serta melukai dua belas orang lainnya. Ledakan itu, menurut penyelidikan polisi, diduga kuat adalah bom bunuh diri. Dari keterangan para saksi mata, tersangka pelakunya adalah Ahmad Mahdi, mantan karyawan PT. Reformasi Kita. Diduga, Mahdi mendendam karena beberapa bulan yang lalu, perusahaan tidak memperpanjang masa kontrak kerjanya. Alasan perusahaan waktu itu, Mahdi dianggap tidak berprestasi.
“Saudara-saudara sekalian! Mohon tenang, karena Bapak Hendra Priyatna telah hadir dan acara akan kita mulai,” seru seorang staf Humas perusahaan, yang menjadi pembawa acara. Para jurnalis pun segera duduk di jajaran kursi yang telah disediakan.
Hendra memasuki ruang dan langsung duduk di podium depan, di samping pembawa acara. Wajahnya tampak letih dan muram, agak kontras dengan perawakan tubuhnya yang besar dan kukuh, meski usianya sudah hampir 60 tahun. Ia memandang ke seputar ruangan sambil tersenyum tipis kepada para jurnalis.
Hendra diam sejenak, menunggu redanya kilatan-kilatan cahaya lampu blitz dari jepretan kamera para jurnalis, sebelum menyuruh stafnya membuka acara. Sesudah pengantar singkat dari stafnya, Hendra menyampaikan terimakasih atas kehadiran para wakil media massa.
“Pertama, atas nama pribadi dan selaku pimpinan PT. Reformasi Kita, saya menyampaikan rasa bela sungkawa yang sebesar-besarnya, atas jatuhnya korban jiwa dan korban yang luka-luka, dalam serangan bom yang lalu. Kepada keluarga para korban, saya juga berdoa, semoga mereka diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi musibah ini,” ujarnya, dengan suara tersendat.
“Saya juga telah menginstruksikan kepada staf saya, untuk mengganti seluruh biaya pengobatan para korban yang luka-luka dan dirawat di rumah sakit. Kepada keluarga korban yang tewas, kami juga akan memberi santunan ala kadarnya. Kami tahu, santunan ini tidak bisa menggantikan anggota keluarga mereka yang meninggal, tetapi itulah yang bisa kami lakukan,” lanjutnya.
Hendra lalu menuturkan kerusakan bangunan akibat ledakan bom dan nilai kerugiannya. Juga, tentang rencananya untuk menutup sementara pusat perbelanjaan yang dibom tersebut, sampai semua kerusakan diperbaiki dan ketenangan kerja pulih kembali. “Mungkin ada pertanyaan dari rekan-rekan wartawan? Mohon menyebutkan nama dan dari media mana.”
Seorang gadis bertubuh mungil dan berjaket Benetton merah, berdiri. “Saya Demi Melinda dari Trans TV. Tersangka pengebom, Ahmad Mahdi, diduga mendendam karena merasa diperlakukan tak adil, dan kontraknya tak diperpanjang. Bagaimana sebenarnya perilaku Mahdi, semasa masih bekerja di perusahaan Anda?” tanya gadis itu.
“Karyawan di perusahaan kami berjumlah ratusan. Tentu saya tak bisa mengenal mereka satu-persatu secara pribadi. Namun, menurut laporan staf kami, kinerja Mahdi memang lamban, sehingga kontraknya tak diperpanjang. Kami memperlakukan Mahdi dengan adil, dan tak mengurangi haknya sedikit pun. Tapi dia memang tidak berprestasi. Apa boleh buat. Kami tak bisa mempertahankannya.”
“Ade Pepe dari Warta Kota,” seorang jurnalis kurus mengangkat tangan. “Di rumah kontrakan Mahdi, polisi menemukan buku-buku berisi ajaran radikal dan buku berideologi kiri. Bahkan ditemukan sejumlah print-out dari Internet, tentang cara-cara merakit bom. Apakah selama bekerja di perusahaan Bapak, Mahdi telah menganut atau menyebarkan pandangan-pandangan radikal?”
“Hal itu pun, kami tak tahu. Sejauh laporan yang saya terima, Mahdi dikenal pendiam dan tidak banyak bicara. Orangnya tekun beribadah. Namun, sebagai bujangan, ia tidak banyak bergaul dengan rekan-rekan kerjanya. Mungkin saja, ia telah menganut pandangan-pandangan radikal, namun persisnya kami tak tahu.”
“Maaf, Pak Hendra,” kali ini seorang gadis lain menyela. Berkacamata minus dan mengenakan jaket denim lusuh, ia tampak galak. “Saya Yunizar dari Majalah Gatra. Beberapa minggu sebelum terjadi pengeboman, Bapak tercatat beberapa kali membuat pernyataan di media massa, yang memuji dan mendukung pemerintah Amerika dalam perang melawan teror. Grup perusahaan Bapak kabarnya juga menjalin kerjasama erat dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Apakah tidak mungkin, pengeboman ini berlatarbelakang sikap Bapak, yang oleh sebagian kalangan dianggap sangat pro-Amerika tersebut?”
Hendra manggut-manggut. Tampaknya ia tidak terkejut dengan pertanyaan itu. “Terus terang, saya memang mendukung penuh kebijakan perang melawan teror. Tetapi bukan karena saya pro-Amerika. Lebih tepat jika disebut pro-kemanusiaan. Saya pikir, seluruh manusia yang masih waras akan mendukung perang melawan teror. Kebetulan saja, Amerika mempelopori kebijakan tersebut. Tentang bisnis dengan perusahaan Amerika, saya pikir tidak ada yang salah dengan itu. Bukankah pemerintah kita juga menerima bantuan utang dari Amerika?”
***
Empat hari sebelum acara konferensi pers itu, dua pria bercakap-cakap pelan, di dalam sebuah mobil Kijang berwarna lusuh, yang diparkir di tempat yang tidak mencolok. Pria yang satu berumur 25 tahunan, dengan warna kulit pucat. Berwajah klimis dengan jenggot tipis, pria itu tampak gelisah. Pria yang satu lagi berumur 40 tahunan, berkulit kehitaman dan berkumis agak kasar. Pria ini dengan tenang mengisap rokoknya dalam-dalam. Kontras dengan rekannya, ia kelihatan amat tenang.
“Ayolah, Mahdi!” kata pria yang lebih tua. “Semua yang akan kita lakukan ini sudah kita bicarakan panjang-lebar, jauh-jauh hari sebelumnya. Kenapa justru sekarang kamu jadi ragu-ragu?”
Mahdi menggeleng-gelengkan kepala. “Saya tidak ragu, Bang Rizal. Cuma…”
“Cuma apa? Kita tahu, grup perusahaan Reformasi Kita itu telah membuat kerusakan di mana-mana. Pabriknya mencemarkan lingkungan di sana-sini. Keuntungannya besar, tetapi karyawannya digaji kecil. Kamu sendiri diberhentikan begitu saja dari perusahaan, bukan? Pemiliknya, Hendra, juga sangat pro-Amerika. Lihat saja ucapan-ucapannya! Dia tak mau tahu atas penderitaan rakyat di Palestina, Irak, dan Afganistan karena tindakan Amerika. Hendra dan perusahaannya adalah kepanjangan tangan Amerika dan Zionis di negeri kita. Dia sangat berbahaya!” Rizal memberi penekanan pada tiap kata-katanya.
“Saya tahu, semua yang dikatakan Bang Rizal itu benar. Saya hanya belum yakin, paket berisi mercon besar ini bisa efektif, untuk menakut-nakuti Hendra agar mengubah kebijakan di grup perusahaannya.” Mahdi menatap Rizal, seperti minta kepastian.
“Aku yakin itu efektif. Sesuai rencana, kamu sekarang tinggal masuk ke pusat perbelanjaan itu dengan paket yang sudah kusiapkan. Kutunggu kamu di sini. Setelah kamu kembali, kita bersama-sama pergi dan menelepon ke pusat perbelanjaan itu. Kita katakan, ada bom di sana. Jika grup perusahaan Hendra tidak mengubah kebijakannya, kita mengancam akan serius mengebom cabang-cabang perusahaannya yang lain. Mudah, kan? Cara ini aman buat kita, juga tak akan ada orang yang terluka. Bagaimana?”
Mahdi tercenung agak lama. Akhirnya, pelan-pelan kepercayaan dirinya bangkit. “Baiklah, Bang. Saya siap sekarang,” ujarnya.
Rizal tersenyum, menenangkan. “Nah, itulah yang kuharapkan. Jangan bimbang, Mahdi. Semua yang kita lakukan ini adalah untuk kepentingan dan kebaikan semua orang. Saat ini, cuma itulah sumbangan yang bisa kita berikan.”
Rizal memberikan paket, yang sudah dibungkus rapi seperti kado, kepada Mahdi. Mahdi menerimanya, dan kemudian melangkah ke pusat perbelanjaan. “Tunggu saya, Bang Rizal!” ucapnya.
“Jangan khawatir. Pasti kutunggu.” Rizal menunggu sampai Mahdi menghilang dari pandangan. Dari kejauhan, terlihat Mahdi masuk ke pusat perbelanjaan tersebut.
Tanpa ekspresi, Rizal mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. Ia menekan nomor-nomor tertentu, dan sesaat kemudian terdengar ledakan dahsyat dari dalam pusat perbelanjaan itu. Bumi terasa bergetar. Asap tebal terlihat mengepul ke luar, dan terjadi kebakaran kecil. Suara jeritan-jeritan panik sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Paket itu tampaknya bukan mercon biasa, seperti yang diduga Mahdi. Paket itu jelas adalah bom berkekuatan cukup besar, yang diledakkan dari jauh lewat sinyal elektromagnetik dari telepon genggam tadi. Rizal sejenak menatap suasana panik di pusat perbelanjaan itu, sebelum menghidupkan mesin mobilnya, berbalik arah, dan meninggalkan tempat itu.
***
Konferensi pers di kantor PT. Reformasi Kita telah usai. Hendra berbasa-basi sejenak dengan sejumlah jurnalis, sebelum mereka pergi. Hendra sempat memberi beberapa instruksi kepada staf perusahaan, lalu masuk ke mobilnya. Ia perintahkan sopirnya untuk menuju ke sebuah hotel berbintang. Ini hari yang melelahkan, dan ia ingin makan siang sendirian.
Mobil masuk ke hotel. Hendra menyuruh sopirnya menunggu dan beristirahat. Ia baru saja melangkah menuju lobi hotel, ketika telepon genggamnya berdering pelan. Hendra mengangkat teleponnya. “Hallo, apakah cuaca di Jakarta sedang mendung?” terdengar suara pria di saluran telepon itu.
Bangsat! Hendra mengutuk dalam hati. Kenapa setan satu ini menelepon di saat-saat begini? “Cuaca di Jakarta cerah,” sahutnya. Ini kode di antara mereka, untuk mengatakan bahwa suasana cukup aman untuk berkomunikasi secara bebas.
“Sialan kau, Firman! ‘Kan sudah kubilang, jangan hubungi aku dulu! Nanti pada saatnya, aku yang akan menghubungimu,” maki Hendra.
“Tenang, Pak Hendra. Saya hanya sekadar mengecek perkembangan. Saya sekarang di tempat yang aman. Pak Hendra tak bisa membayangkan, bagaimana lelahnya saya berperan sekian lama sebagai Rizal. Membujuk Mahdi, agar mau membawa paket bom itu, juga butuh teknik tersendiri. Soalnya, dia labil dan emosinya naik-turun. Tetapi, semua berakhir seperti yang direncanakan. Mahdi sudah tewas. Tak ada saksi yang bisa menghubungkan bom itu dengan saya, apalagi dengan Anda.”
Hendra mendengus. “Huh, aku sudah tahu itu.”
“Ide Pak Hendra, untuk menaruh buku-buku gerakan militan dan print-out teknik merakit bom di rumah kontrakan Mahdi, benar-benar brilian! Pak Hendra bahkan berhasil menggalang kondisi, dengan sengaja melontarkan pernyataan-pernyataan pro-Amerika di media massa, beberapa waktu lalu. Sementara ini, hal itu cukup memadai untuk menjelaskan motif dan cara tindakan bom bunuh diri Mahdi. Pemberitaan media massa pun tampaknya menelan mentah-mentah umpan itu.”
“Tutup mulutmu! Kau kubayar bukan untuk membuat analisis, tapi sekadar melakukan tugas yang kuberikan.”
“Saya mengerti, Pak,” terdengar suara Firman tertawa. Nadanya sabar. “Omong-omong, kapan bisa saya terima transfer uangnya? Saya berharap, tidak perlu menunggu sampai Pak Hendra menerima bayaran klaim asuransi, atas ledakan bom di pasar swalayan tersebut. Saya tahu, untuk klaim asuransi yang begitu besar, tentu prosesnya tidak bisa cepat.”
“Aku tak mau terlihat mencolok saat ini. Minggu depan akan kau terima bagianmu!”
“Terimakasih, Pak. Oh, ya. Apakah ada garapan lagi, yang bisa saya lakukan dalam waktu dekat ini?”
“Brengsek! Tidak sekarang. Ini masih terlalu cepat. Kau akan kukontak lagi nanti.”
“Baik, Pak. Selamat siang!” Hubungan telepon pun diputus.
Hendra tercenung sesaat. Ia memasukkan telepon genggamnya ke saku, lalu meneruskan langkahnya dengan perlahan ke kafe hotel. Ia merasa tak perlu terburu-buru. Masih cukup waktu untuk menikmati makan siang. ***
Depok, September 2003
